Date: 26-01-2021 Digital Publication Services : JABM | JAM | ABMR | ABMCS | BLOG

Faculty Research

ESTIMASI INFLASI DI INDONSEIA DENGAN MENGGUNAKAN METODOLOGI BOX JENKINS

Detail
Author NEVI DANILA (Tim: Anggota 1)
ID 202.710.123
Published Date 01-01-1900

Abstract

Sebelum krisis, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) mempertahankan tingkat inflasi yang rendah, menjaga stabilitas rupiah, dan memfasilitasi produksi dan pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup/kesejahteraan masyarakat Indonesia (Iljas,1998). Setelah krisis, kebijakan nilai tukar berubah menjadi floating exchange rate regime, yaitu nilai tukar rupiah yang ditentukan oleh kekuatan pasar. Padahal tingkat inflasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai tukar. Tujuan dari penelitian ini untuk memprediksi tingkat inflasi di Indonesia. Mengetahui perkiraan inflasi sangat penting bagi dunia usaha dan bagi pembuat kebijakan. Bagi dunia usaha, mereka akan mampu membuat perencanaan operasional perusahaan dengan lebih baik sehingga perusahaan akan menghasilkan laba yang diinginkan. Sedangkan untuk pembuat kebijakan, mereka akan mampu untuk membuat kebijakan-kebijakan untuk mengantisipasi inflasi yang akan datang, sehingga tujuan meningkatkan taraf hidup/kesejahteraan masyarkat Indonesia bias tercapai. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode Box-Jenkins (BJ) atau ARIMA model. Metode ini merupakan salah satu dari dua metode yang sekarang populer digunakan untuk memperkirakan variabel ekonomi (Gujarati, 2003). Fisolofi dari metode ini adalah “let the data speak for themselves”. Prediksi angka inflasi tahun 2009 adalah sebesar 10.48%, angka ini didapatkan dari model ARIMA terbaik, yaitu AR (2). Tingkat inflasi 10.48% cukup beralasan mengingat inflasi di Indonesia secara empiris banyak dipengaruhi oleh faktor nilai tukar dan imported inflation. Sedangkan kondisi ekonomi dunia belum pulih dari krisis global. Perkiraan perekonomian mulai pulih pada awal tahun 2010. Sebagai dampaknya tekanan nilai tukar masih tinggi pada tahun 2009, hal disebabkan oleh ekspor yang belum optimal, dan aliran modal asing yang masih terbatas.