Date: 23-09-2019 Digital Publication Services : JABM | JAM | ABMR | ABMCS | BLOG

Faculty Research

ANALISIS CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE SEBAGAI PERWUJUDAN GREEN ACCOUNTING

Detail
Author TRIANA MURTININGTYAS (Tim: Anggota 1)
ID 202.710.184
Published Date 20-08-2013

Abstract

Abstrak Green Accounting merupakan isu yang sedang ramai dibicarakan oleh pemerintah, pelaku bisnis dan juga stakeholders maupun non stakeholders. Banyak perusahaan yang sudah mengelurkan miliaran rupiah untuk aktivitas lingkungan. Permasalahannta apakah pengeluaran-pengeluaran tersebut sudah tercermin dalam laporan keuangannya sehingga laporan keuangan yang dihasilkan sudah mencerminkan green accounting atau bahkan belum menampilkan pengeluaran-pengeluaran lingkungan secara detil dan masih tersembunyi pada biaya-biaya lain seperti biaya overhead atau biaya administrasi. Penelitian ini ingin mengetahui sejauh mana perusahaan yang memiliki peringkat emas, hijau dan biru berdasarkan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang dikeluarkan oleh menetrian Lingkungan Hidup dalam melaporkan biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai perwujudan CSR dalam laporan keuangannya. Karena perusahaan diharapkan untuk menerapkan manajemen lingkungan sebagai bentuk pertanggungjawaban social di sekitar perusahaan itu beradsa dalam konteks sustainable development. Hal ini akan menjadi kewajiban sesaat saja yang hanya untuk menarik perhatian public tetapi merupakan suatu program yang berkelanjutan untuk kelangsungan hidup masyarakat sekitar juga keberlanjutan perusahaan itu sendiri di masa yang akan datang. Populasi dari penelitian ini perusahaan-perusahaan yang masuk dalam data PROPER pada tahun 2011. Sedangkan sampel dari penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang mendapat peringkat emas, hijau dan biru pada tahun 2011. Dengan pertimbangan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sudah memenuhi kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh KLH. Jenis penelitian ini termasuk kedalam studi penelitian diskriptif karena paneliti hanya ingin melihat apakah perusahaan-perusahaan yang telah mendapat peringkat emas, hijau dan biru dari kementerian lingkungan hidup melalui PROPER sudah mendiskripsikan secara detil/gamblang seluruh pengeluaran CSR-nya dalam laporan keuangan sehinga sudah mencerminkan laporan keuangan yang “hijau atau lebih dikenal dengan green accounting.